Sabtu, 01 Juni 2013

Ayu Adriyani Yusuf : Menulis Adalah Bekerja untuk Keabadian

1 komentar

Di tengah-tengah bibit baru penerus majalah yang ia pimpin, ia berbicara dengan tenang. Membagi-bagi tugas dan tanggung jawab, membicarakan nasib majalah Baruga kedepannya. Ia mengenakan jilbab coklat yang saya yakini adalah jilbab kesukaanya. Ya, coklat adalah warna favoritnya. Ia bahkan menamakan blognya degan embel-embel warna yang manis ini. Pena Cokelat.

Pena Coklat. Dua kata ini sungguh menggambarkan sosok seorang Ayu Adriani. Pena, mewakili kegiatan menulis, adalah sesuatu yang tak bisa lepas darinya. Menurutnya, ia bisa mengekspresikan apa yang ingin ia katakana tanpa harus bersuara keras.  Ia selalu mengutip kalimat dari sang penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.  Dan Coklat, selain karena ia kerap menggunakan jilbab berwarna cokelat, saya pun meyakini ia suka makan coklat.
Gadis kelahiran 21 tahun silam ini  memulai mengasah kemampuan menulisnya sejak duduk di bangku SMP melalui Kelompok Ilmiah Remaja dengan belajar menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI). Tak seperti anak muda perempuan pada umumnya yang senang membuat tulisan fiksi, Ayu mengaku lebih suka menulis essai.  Kebanyakan essai yang dibuatnya menyinggung persoalan media dan literasi.
Tulisan-tulisan yang dibuat Ayu mengantarkannya menjadi juara di beberapa kompetisi menulis, antara lain terpilih sebagai duta Mahasiswa GENRE yang dianugrahi oleh BKKBN, juara I Kompetisi Essai “Book Fair” oleh Identitas Unhas, peringkat lima besar di Kompetisi Blog dan terpilih sebagai volunteer di Global Youth Forum di Bali. Selain itu, tulisannya juga pernah dimuat di berbagai media cetak seperti Identitas, Lentera, dan Majalah Baruga.

Organisasi
Ketika kita berbicara tentang sosok Ayu Adriani, kita berbicara tentang menulis dan organisasi. Selain menulis, berorganisasi juga menjadi salah satu passionnya. “Kuliah itu tidak cukup hanya di dalam kelas saja. Berorganisasi adalah satu dari sekian banyak mengapa kuliah tidak cukup hanya di dalam kelas saja. Melalui organisasi, kita bisa belajar banyak hal yang tidak kita dapatkan di bangku kuliah atau melihat dengan nyata sesuatu yang tidak cukup hanya berhenti di ranah teori.” ujarnya.
                Organisasi, menurutnya, secara langsung melatih kemampuan untuk berinteraksi dengan banyak hal dan melatih kemampuan dalam melihat dan memecahkan masalah yang dihadapi. Ketika ditanya mengenai peran organisasi dalam masyarakat, ia berkata bahwa pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi pada dasarnya sangat membutuhkan kemampuan untuk jeli dalam melihat masalah, dan itu dapat dipatka dengan aktif berorganisasi.

                Namun, tak jarang mahasiswa lalai kewajibannya untuk belajar karena terlalu sibuk berorganisasi dan Ayu sangat tidak senang denga fenomena yang kerap terjadi ini.  “Organisasi tidak pernah menjadi pilihan yang salah dalam setiap jenjang pendidikan. Asalkan, keseimbangan antara akademik dan organisasi itu tetap terjaga, yang terpenting adalah kemampuan kita untuk bertanggung jawab pada pilihan kita.”


Tulisan profil di atas adalah salah satu tugas saya untuk mata kuliah Dasar-Dasar Jurnalistik. Kita sebut saja dia Ayu *namemang Ayu namanya anuuu* senior saya di Kosmik Unhas. Dia adalah pimred Baruga Kosmik Unhas periode 2013-2014. Dia suka coklat.

Rasa-rasanya.. saya menulis ulang yang di atas deh -___-"

Ya sudahlah, yang penting dia itu Kak Ayu.
Senyumnya unyu'.
Ketawanya lucu.
Mumuumumu :3

Nb : Kak Ayu, maaf kalau ada salah-salah yaw! ini saya buat beberapa saat sebelum deadline. dan nda sempatka edit lagi, nanti ka nda sabar mki baca :P

Syelaaamat Malam! :D

1 komentar :