Selasa, 10 April 2012

akhirnya nulis serius!

Tidak ada komentar

Speaker Daeng Bentor



*taken from Google*

Becak motor atau yang lebih akrab kita sebut dengan bentor semakin melonjak saja jumlahnya. Body-nya yang tampil dengan warna-warna nyentrik selalu menarik perhatian di jalanan. Kendaraan beroda tiga ini, dibandingkan dengan pendahulunya, terbilang lebih efektif dan efisien. Jika dibandingkan dengan becak, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan lebih singkat dan pengemudinya pun tidak harus bersusah payah mengayuh. Lain halnya dengan ojek, jumlah penumpang yang bisa dimuat lebih banyak dan ini jelas menguntungkan pihak calon penumpang.

Seiring perkembangannya, semakin banyak anggota masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha transportasi ini. Untuk menarik calon penumpang tentunya masing-masing Daeng bentor (sapaan akrab masyarakat Makassar kepada pengemudi becak motor) mengupayakannya degan berbagai usaha, salah satunya dengan menambahkan audio. Para pengemudi bentor meletakkan speakernya di bawah tempat duduk penumpang bahkan ada pula yang meletakkannya di dekat setir motor.

Mengenai jenis musik yang dimainkan, hampir semuanya memiliki selera yang sama. Kalau bukan dangdut ya house music. Paling banter lagu-lagu Indonesia bernuansa Melayu yang sedang hits di masyarakat. Bukannya mencoba merendahkan, hanya memaparkan aliran musik para pengemudi bentor yang kebanyakan berasal dari masyarakat menengah ke bawah.

Sayang seribu sayang, fasilitas yang awalnya dirancang untuk menghibur ini malah menimbulkan efek negatif, salah satunya adalah bertambahnya polusi suara. Suara bising lalu lintas yang berasal dari kendaraan bermotor saja sudah cukup untuk menimbulkan kebisingan, apalagi jika ditambah speaker dahsyat bentor. Seperti yang telah kita ketahui suara bising yang berlebihan dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi kesehatan telinga karena dapat berkurang kepekaannya bahkan dapat menyebabkan ketulian. Selain itu, suara bising juga dapat mempengaruhi kondisi jiwa, seperti timbulnya perasaan resah dan tidak nyaman. Maka tidak heran jika akhirnya calon penumpang kebanyakan lebih memilih bentor yang ‘adem ayem’ dibandingkan dengan bentor yang ‘bombastis’

so, finally! seorang am bikin tulisan serius! muahahaha

Jadi tulisan ini merupakan follow up dari Kelas Menulis Baruga yang diadakan beberapa waktu yang lalu. Saya sendiri tidak mengerti mengapa ide ini yang muncul ketika Kak Meike, koordinator Biro Baruga, langsung menanyakan kami ide tulisan yang akan ditulis. Mungkin karena sebelumnya ketika di perjalanan menuju kampus setelah menjemput saudari Vika ada bentor bombastis yang lewat di sebelah kami. Sungguh kawan, lirik lagunya benar-benar lucu. Sanggup membuat motor saya oleng sedikit karena terlalu serius tertawa. Untung berat badan orang yang saya bonceng tidak lebih berat daripada saya. Kalau iya kan rempong! Bagaimana saudari Vika? Sudah benarkah analisis saya?

*PS : tulisan ini diposting di web KOSMIK, malu berat pemirssahhh! >.<

Tidak ada komentar :

Posting Komentar