Sabtu, 04 Februari 2012

takut cuci sayur

1 komentar

semuanya bermula ketika tetangga kami merayakan ulang tahun anak bungsu mereka, Sasha. sebagai tetangga yang baik, ibu saya berpartisipasi untuk bantu-bantu memasak, berhubung keluarga tersebut lebih memilih masak sendiri ketimbang katering apalagi merayakan di tempat yang ada ayam raksasa di sudut ruangan. mungkin mereka takut ayam itu akan mempengaruhi tumbuh kembang anak mereka. entahlah. tapi saya tidak terlalu mempermasalahkan ayam malang itu. masalahnya, ibu saya mengajak saya untuk ikut membantu. sebagai anak esempe unyu labil yang sedang menikmati waktu luang, sayapun mengajukan protes terselubung dengan alasan yang tidak jelas.

"tapi aku ga bisa masak yang banyak-banyak maaaah"

"yang suruh kamu masak siapa? cuci sayur doang kok!"

"tapi banyak orang maaaaaaaah"

"bacot banget! mama bacok nih!"

oke, sejujurnya, dua kalimat paling akhir diatas adalah fiksi belaka.

akhirnya, setelah perdebatan paling penting di dunia usai saya pun mengalah. nanti kalau kamu nikahan ga da yang dateng hayoloh, selip ibu. well, that's freaking frightening.

sesampainya disana, kami berdua disambut gembira oleh keluarga Sasha. tanpa banyak chit chot, ibunya Sasha langsung bilang "amma, sayurnya sudah ada di baskom. ke belakang gih" eybusyeeeeeeet gile aje, semena-mena banget yak ama tamu -.- Tapi, saya kembali menguatkan hati, tujuan awal kamu kesini kan emang buat bantu-bantu, am! Jangan ngayal disuguhin black forrest dulu deh!

dengan mencoba terus berpositive thinking, saya akhirnya ke bagian belakang rumah dan mulai mencuci sayur sawi yang menggunung. saat mengangkat sayur untuk mengganti airnya, mimpi buruk itupun datang. Delapan ekor ulat putih, tujuh mengapung menggemaskan di permukaan air dan satu menggelayut manja di punggung tangan. Tiba-tiba semuanya gelap....


TIDAK!

yakinlah kawan, itu hanya dramatisasi belaka. sebenarnya, yang terjadi selanjutnya adalah pemandangan anak gadis belia menggelinjang unyu di depan baskom berisi air dan tujuh ulat tersenyum penuh kemenangan. dan tentunya sayur sawi tak bersalah yang berserakan di lantai. dan ulat yang satu lagi, entahlah. mungkin ia kembali ke habitatnya, tumpukan sayur di lantai. tak perlu dicari, karena akan amat sangat menyusahkan bagai mencari jarum di tumpukan jerami. dan sesungguhnya, tidak ada niat sedikitpun untuk mencarinya.


i've told you, mom. i got a bad feeling about this.

nb : sampai sekarang, saya masih agak takut kalau harus mencuci sayur. hanya di keadaan-keadaan terdesak saja saya bersedia. ibu saya pernah bilang “nanti kalau kamu berkeluarga bagaimana?! mau suruh suami kamu cuci sayur?”. and, out of the blue, kakak sepupu saya lewat dan nyeletuk dengan kebijaksanaan yang dibuat-buat dengan berlebihan “semua ada prosesnya..”. i got nothing to do but giggling :)

1 komentar :