Minggu, 24 April 2011

ingkaran

2 komentar
Tahu logika matematika kan? Kita berdua sama-sama mempelajarinya; salah satu bahan yang kata si guru akan keluar pada Ujian Nasional nanti. Tapi entahlah, mungkin kau tidak berminat. Matematika bukan pelajaran terbaikmu, seperti aku juga. Oh iya, omong-omong soal itu, apakah kau juga menyimpan fakta itu dalam sakumu, bahwa kita mendapatkan nilai yang sama jeleknya di try out matematika kemarin?

Ah, kurasa tidak. Beberapa minggu yang lalu—bukan minggu-minggu terbaik dalam hidupku, kurasa aku hanya sedikit lebih memperhatikanmu daripada sebelum-sebelumnya. Tentang betapa obrolan mengalir deras ketika aku berbincang denganmu, tentang betapa kau selalu berusaha membuatku tertawa gara-gara leluconmu yang—sebenarnya, kasar juga tidak lucu-lucu amat, tentang betapa kita mempunyai orientasi minat yang kurang lebih sama, juga tentang betapa kita sudah berteman selama bertahun-tahun namun tak pernah benar-benar mengenal satu sama lain.
Aku begitu gundah waktu itu. Begitu banyak masalah; siapa ingin berteman dengan siapa, blablabla tak ingin berteman lagi dengan blablabla, si anu merasa si anu menusuknya dari belakang, dan sebagainya. Mereka bilang itu tanda-tanda kita mulai dewasa, tapi tidakkah seseorang sadar, bahwa kita lebih terlihat seperti kembali ke jaman SD dulu? Waktu orang-orang bermusuhan gara-gara hal sepele, saling meniup jari kelingking, dan menghindar satu sama lain layaknya kutub magnet sejenis? Masalah hormonal, makanan sehari-hari remaja. Dan itu pula yang membuatku melihatmu dari sudut pandang berbeda, kurasa. Aku jadi ingin tahu.
Apakah jarak sejauh tiga tahun itu pernah kau isi dengan menjadikanku sebagai obyek status-statusmu di facebook, yang acapkali bicara tentang cinta? Atau pernahkah kau teringat akan tingkahku yang mana saja, kemudian membuatmu tertawa sendiri ketika sedang duduk di toilet? Lebih dari sekali, kau mengajakku beradu telapak tangan, mentertawai ukuran tanganku yang lebih kecil seruas dibandingkan tanganmu yang besar namun kurus. Apakah kau senang melakukannya, sama sepertiku, atau kau hanya diam-diam mengukur pertumbuhanku dari tahun ke tahun? Apa yang ada di dalam kepalamu waktu kau bilang aku terlalu sibuk ‘bermesraan’ dengan sahabat-sahabat baruku, dan sambil lalu memintaku lebih sering menoleh ke belakang sana, tempat dudukmu? Dari mana kau selalu memanggil namaku untuk menunjukkan hal-hal yang menurutmu lucu supaya bisa kita tertawai bersama?
Aku tenggelam dalam tanya, bergelut, terhanyut, kemudian bergerak ke arah satu kesimpulan:
Rupanya selama ini aku mengharapkanmu. Sedikit. Sedikit saja. Kau selalu di pojok sana, untuk disapa dan diajak bicara. Untuk ditanyai, diajak berdiskusi. Untuk diajak bercanda, untuk menjadikanku bahan ejekkan. Untuk diandalkan, kadang-kadang. Untuk diperhatikan, jika aku menyadarinya sedikit lebih awal. Beberapa bulan yang lalu, aku tidak melihatmu karena ada Si Bintang Terang di sana. Tahun lalu, aku tidak melihatmu karena sibuk bercanda dengan teman-temanku. Dua tahun lalu, aku bahkan tidak tahu kau ada di sana karena ada begitu banyak hal dalam kepalaku.
Ada banyak hal, tapi baru sekarang aku menyadari bahwa mungkin saja, aku suka padamu.
Sekarang, bagaimana aku harus memandang semua itu? Kutelan bulat-bulat si buah simalakama. Salah melangkah, maju salah mundur juga salah. Kini memandang wajahmu lebih dari tiga detik saja aku tidak sanggup. Kalau kau memang pernah menyukaiku, maka salahkulah kalau sekarang kau tak lagi berharap padaku. Dan kalau selama ini kau hanya mencoba bersahabat denganku—hal yang selalu kulewatkan dalam jangka waktu tiga tahun terakhir—maka salahku juga karena saat ini, detik ini, segenap jiwa ragaku, setiap serat dalam tubuhku, berjuta sel pembentuk otakku, sudah mengakui bahwa aku suka padamu.
Kita tak bisa seperti dulu. Atau tepatnya aku tidak bisa kembali seperti dulu. Seperti dulu, mentertawakan lelucon-lelucon garing, berdiskusi soal mata pelajaran yang sama-sama menjadi favorit kita itu. Kau tidak lagi mengambil barang-barangku dan meletakkannya di bagian puncak papan tulis yang tak bisa kugapai, seperti dua tahun lalu waktu kita kelas satu. Aku tidak lagi bertandang ke mejamu sekedar untuk mengobrol, dan kau tidak lagi menyapaku pada pagi hari saat kita jadi dua orang pertama yang tiba di kelas. Posisiku sudah digantikan, entah oleh gadis mana saja yang sering mengajakmu mengobrol pada sela-sela pergantian pelajaran, atau entah siapa yang kau antar pulang itu dengan motormu.
Entah kita saling mengingkar, atau sesungguhnya kita berdua hanya menyerah atas maksud kedekatan yang tidak lagi sinkron?
____
Premis 1: Aku mencuri pandang ke arahmu.
Premis 2: Kupikir aku menangkap basah tatapanmu pada punggungku.
Premis 3: Kita saling beradu pandang atau kau sedang memandangi kursi kosong di depanku.
Premis 4: Jika aku melakukan hal-hal konyol di kelas, maka kau menatapku tajam sambil geleng-geleng kepala.
____
Premis 5: Suatu hari, semua orang di dunia kecuali aku tahu kau punya gebetan di kelas bawah. Pada hari valentine, kau memberinya hadiah. Kemarin anak itu berulang tahun, dan entah kenapa hari ini kau senang sekali.
Kesimpulan:
Kebenaran mengingkar.
Pada akhirnya, hal-hal semacam ini tak bisa dirumuskan. Bahkan oleh logika matematika. Apalagi kau dan aku.
____

*originally taken from kemudian.com. nama penulisnya gatau siapa, waktu itu copy paste doang dan baru sempat dibaca hari ini. ceritanya bikin meleleh T.T

2 komentar :

  1. kereeeen, tapi yakin ini bukan kisahmu am ? wkwkwkwk

    BalasHapus
  2. kuyakin itu kisahku. dan penulis itu sukses membua hatiku tersayat #eaaaaaaaaaaaa

    BalasHapus